Minggu, 06 September 2009
Said Hamzah Pribadi Low Profile yang Mencatat Sejarah
Penasaran lebih dekat dengan sosok Said Hamzah yang di dalam buku Tanjungpinang Kota Bestari,terbitan Pemko Administratif Tanjungpinang tahun 1997 disebutkan sebagai anggota Panitia 17,yang berperan dalam pembubaran Dewan Riau pada tahun 1950,Tras mencoba kembali menyambangi kediamannya,esok hari,Kamis (20/8).
Siang itu ba'da Zuhur,rumah itu seperti sebelumnya tampak sepi.Bahkan pintu pagar yang sebelumnya terbuka,kini tertutup.Ucapan salam beberapa kali tidak ada yang menjawab apalagi membukakan pintu.
Tras mencoba bertanya ke tetangga sebelah rumah.Dari wanita itulah Tras dapat informasi jika Said Hamzah sedang keluar rumah dengan sepeda motornya.Sebuah pernyataan yang mencengangkan.Diusia yang sudah uzur,ternyata ia masih kuat membawa motor.
"Kalau motor beliau tidak ada,artinya sedang keluar rumah," tutur wanita yang sedang hamil tersebut.
Dari wanita itu juga Tras dapat informasi,jika Said Hamzah saat ini hanya tinggal berdua dengan istrinya.Sebelumnya ada satu anaknya yang tinggal dengannya.Namun karena mendapat kecelakaan,sang anak harus dirawat sementara di rumah abangnya,Said Husin.
Informasi yang sang sedikit itu,ternyata membuka jalan bagi Tras untuk terus menelusuri.Ternyata Said Husin adalah pegawai Pemko Tanjungpinang yang pernah menjabat Kabag Humas Setdako Tanjungpinang.
Melalui sambungan via handphone,Tras mencoba mencari informasi terkait peran sang bapak pada tahun 1950 an sebagai anggota panitia 17.Ia mengaku kurang tahu dan yang ia ketahui cuma bapaknya pernah diundang ke Istana Negara oleh Presiden Soekarno karena mendapat penghargaan,telah membantu korban kecelakaan pesawat milik maskapai India di Sedanau,Natuna,tahun 1955.(baca insert : Perawat itu Tercatat di Sejarah)
"Nanti malam coba saya dampingi untuk wawancara dengan beliau,mudah-mudahan masih ingat atau melalui dokumen nanti bisa ditelusuri," jawab Said Husin via handphone.
Malam itu Tras diterima oleh Said Husin di kediaman orang tuanya.Said Hamzah yang malam itu mengenakan baju koko dan kain sarung plus peci haji,tampak segar.Sedangkan sang istri,Syarifah Zaharah yang juga sudah uzur tampak kurang sehat.
Ternyata memang pria kelahiran 30 April 1928 itu tidak ingat lagi ketika ditanya peristiwa tahun 1950.Bahkan sang anak yang mencoba membangkitkan ingatannya secara perlahan,juga dijawab dengan ucapan "saya lupa dan tak ingat lagi," jawabnya.
Said Husin pun mencoba mencari berkas dokumen di kamar sang ayah.Dari bundelan map yang dipenuhi kertas berwarna kuning kusam,ia berkas mendapati riwayat hidup sang bapak yang pernah tercatat sebagai anggota Panitia 17.
"O..panitia 17,ya saya anggotanya," ujar Said Hamzah yang akrab dipanggil Abah oleh keluarga dan tetangganya.
Namun ketika ditanya apa saja itu Panitia 17,tujuan dan kegiatan yang dilakukan saat itu,kembali Abah mengaku tidak ingat lagi."Saya sudah lupa,waktu itu saya hanya anggota biasa saja," tuturnya dengan ekspresi wajah yang berpikir,seakan mencoba mengingat peristiwa hampir 60 tahun silam tersebut.
Dari berkas riwayat hidup yang ditulis tahun 1974 tersebut,Abah yang pensiunan pegawai RSUD Tanjungpinang mencatat hal-hal sebagai berikut :
1.Tahun 1946:Ia menjadi anggota Badan Kebangsaan Indonesia Riau (BKIR).
Tujuan organisasi itu memberikan penerangan secara berantai kepada masyarakat tentang kemerdekaan RI, dan menyusun kekuatan untuk menghadapi kolonial Belanda.
2.Tahun 1949 : Menjadi anggota Gerakan Pemuda Indonesia (Gepindo),yang bertujuan mengkoordinir seluruh tenaga muda untuk mengacau kekuatan Belanda.
3. Tahun 1950 : Jadi anggota Panitia 17 dengan tujuan menggabungkan diri kepada Negara Kesatuan Republik Indonesia serta membubarkan Riouw Rood (Dewan Riau)
4.Tahun 1952 : Anggota PNI
5. Pada 11-5-1955 : Menolong kapal terbang India yang jatuh di Sedanau,Bunguran Barat.
6. Pada 11-2-1971 : Keluar dari PNI
7.Pada 1-7-1955 : Menerima surat tanda penghargaan tanda jasa dari Air India Internasional VT-Dep/MISC/1610
8.Pada 22-2-1956 : Menerima tanda jasa dari pemerintahan India.
Tak banyak yang bisa digali secara langsung dari mulut Abah,tentang apa saja yang pernah dilakukannya bersama kawan-kawannya Panitia 17 pada tahun 1950,dengan alasan ia sudah lupa.
Bahkan,nama kawan-kawannya yang bergabung pada Panitia 17 juga ia tidak ingat.Tapi yang jelas,kawan-kawannya itu kini sudah meninggal dunia semuanya.
Tapi,dari sebuah buku tipis setebal 10 halaman yang ditemukan Said Husin di kamar sang bapak,bisa diketahui tentang ikhwal pembentukan pemerintahan di Kepulauan Riau dan bergabung dengan Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Buku tanpa sampul itu diawali halaman 245 dan diakhiri halaman 254.Buku itu seakan-akan sengaja dilepas dari sebuah halaman buku utuh.Halaman pertama atau 254 tertulis judul "Pasal 6,di Kepulauan Riau.1 Pemerintahan"
Dalam buku tipis tersebut, diceritakan sejarah ikhwal pembentukan pemerintahan di Kepulauan Riau dari semenjak kemerdekaan hingga terbentuknya NKRI (1950).
Tapi ada sedikit titik terang mengapa Said Hamzah bisa menjadi anggota pada panitia 17 pada tahun 1950.Hal ini ditarik dari awal bergabungnya ia pada sejumlah organisasi pemuda seperti ditulis dalam riwayat hidupnya dan dihubungkan dengan keterangan yang dalam buku yang memakai ejaan lama tersebut.
Dalam perbincangan dengan Tras,Said Hamzah yang cenderung lebih ingat tentang pekerjaannya sebagai perawat di rumah sakit Tanjungpinang (jawatan kesehatan) menyebutkan nama Dr Ilyas yang merupakan orang yang berjasa pada dirinya.Karena sang dokterlah yang mengajarkannya secara otodidak tentang penanganan pasien,merawat serta meracik obat sejak ia masuk bekerja pada tahun 1946.
Dr Iljas sendiri,begitu tertulis dalam buku tersebut,adalah Ketua Badan Kebangsaan Indonesia Riau (BKIR) yang didirikan tahun akhir tahun 1945,di mana Said Hamzah juga menjadi anggotanya.
Jadi,aktifnya dan terlibatnya Said Hamzah dalam sejumlah organisasi pemuda pada zaman kemerdekaan, kemungkinan besar karena ajakan dari sang dokter yang sangat ia hormati tersebut.
Pada halaman 250 buku tersebut,disebutkan pada pertengahan tahun 1946 Dr Ilyas menyampaikan permintaan kepada Residen van Riouw (Dr.J.van Waardenburg) di Tanjungpinang,agar penduduk Indonesia di Kepulauan Riau,dapat dibenarkan mengibarkan bendera Sang Merah Putih pada tiap-tiap peringatan Hari Proklamasi Kemerdekaan RI.Namun,permintaan itu ditolak mentah-mentah oleh residen tersebut.
Perlawanan BKIR yang merupakan organisasi bawah tanah,juga melahirkan organisasi lainnya yang bertujuan serupa,seperti Keinsyafan Rakyat Indonesia Riau (KRIR),Angkatan Muda Indonesia Riau (AMIR) dan Gerakan Rakyat Indonesia Riau (GRIR).
Kemudian keempat organisasi bawah tanah yang melawan Belanda itu,sepakat mendirikan perkumpulan pemuda yang legal dengan nama Gerakan Pemuda Indonesia (Gepindo) pada 20 November 1946,yang punya anggota lebih 2000 orang.
Ketua umumnya ditunjuk MJ Hasibuan dengan program yang mendesak dari Gepindo,berusaha sekuat tenaga agar daerah Kepulauan Riau secepatnya digabungkan dengan negara Republik Indonesia.
Pada awal tahun 1950 Gepindi mengeluarkan resolusi yang diantaranya menuntut :
- Daerah Kepulauan Riau selekas-lekasnya digabungkan dengan RI
-TNI segera didatangkan di daerah Kepulauan Riau
-Menolak daerah Kepulauan Riau dijadikan tempat persinggahan oleh tentara belanda.
Pada waktu itu anggota TNI di Tanjungpinang baru tiga orang,yakni Mayor R Akil Prawiradireja,Kapten Islam Salim dan Letnan Segito.
Karena keadaan yang makin hari makin hangat, pada 12 Maret 1950,atas inisiatif sejumlah pemuda yang progresif berdirilah di Tanjungpinang badan yang diberi nama Panitia 17,yang diketuai oleh Zamachsjari,yang juga merupakan pegawai jawatan kesehatan.
Panitia 17 punya program mendesak yakni :
1.Dewan Riau bentukan kolonial Belanda dibubarkan
2.Menggabungkan Daerah Kepulauan Riau dengan Negara Republik Indonesia.
Kemungkinan besar,keterlibatan Said Hamzah dalam Panitia 17 yang diketuai Zamachsjari,karena mereka berdua sama-sama bekerja di jawatan kesehatan.
Panitia 17 sendiri akhirnya mencatat sejarah,karena berkat desakan organisasi ini yang akan mengancam akan mengadakan rapat raksasa dan demo besar-besaran pada saat Dewan Riau mengadakan sidang pleno yang direncanakan pada 20 Maret 1950,akhirnya Dewan Riau membubarkan diri.
Dewan Riau membubarkan diri pada sidang kilat 18 Maret 1950.Dewan ini membubarkan diri ketakutan dengan ancaman demo besar-besar oleh Panitia 17 dan Gepindo yang akan melibatkan masyarakat banyak.
Gerakan Panitia 17 pada waktu itu bisa dikatakan sangat berani untuk melawan kolonial Belanda yang masih banyak menguasai Tanjungpinang dan Dewan Riau.Tapi,semangat dan perasaan yang kuat untuk bebas merdeka yang ditekan sejak tahun 1945 oleh pemerintah Belanda,tidak bisa dibendung.
Semangat Panitia 17 yang terdiri dari pemuda yang progresif itulah yang membuat Dewan Riau akhirnya membubarkan diri dan akhirnya daerah Kepulauan Riau bergabung dengan NKRI.
Insert
Perawat Itu Tercatat di Sejarah
Meskipun tidak bisa menggali lebih banyak tentang Panitia 17,tapi berjumpa dan berbincang dengan Said Hamzah ternyara menghasilkan informasi yang juga menarik untuk disimak.
Bapak delapan orang anak ternyata hanya tamatan Sekolah Rakyat.Tapi,ia bisa diterima menjadi pegawai di jawatan kesehatan dan bertugas di rumah sakit Tanjungpinang.
Secara otodidak dan kondisi yang darurat pada tahun 1946,ia diajarkan tentang menangani pasien,merawat dan meracik obat oleh dokter Ilyas.Dari sang dokter yang juga aktif di organisasi pemuda itulah,akhirnya kakek dari 25 orang cucu itu bisa dipercaya menjadi perawat di Balai Pengobatan Masyarakat di Sedanau pada tahun 1955.
Saat bertugas sebagai satu-satunya tenaga perawat atau cenderung disebut mantri kesehatan,Said Hamzah bersama sejumlah masyarakat di Sedanau pernah menolong korban jatuhnya pesawat milik maskapai India di perairan Natuna pada 11 April 1955.
Pesawat Kashmir India Airlines itu membawa penumpang usai mengikuti Konferensi Asia Afrika di Bandung.Saat itu hanya 3 orang yang dinyatakan selamat setelah ditolong dan dirawat oleh Said Hamzah dan masyarakat.
Apa yang dilakukannya di sebuah pulau kecil itu ternyata sampai ke Presiden RI,Soekarno dan kemudian ia diundang ke Istana Negara bersama empat orang masyarakat untuk menerima penghargaan dari presiden dan pemerintah India.
"Waktu itu kami diberi uang,oleh-oleh dan seminggu di Jakarta," kenang Abah.
Sebuah medali tanda penghargaan dari pemerintah India masih disimpannya dalam sebuah kotak.Malam itu ia mengeluarkannya dan memperlihatkannya ke Tras."Ini tanda penghargaan itu dan selama ini saya simpan," ujarnya.
Menurut sang anak,Said Husin,mungkin hanya segelintir orang yang tahu kalau sang bapak pernah diundang khusus oleh Presiden Soekarno dan mendapat penghargaan dari Negara India.
"Bapak saya orangnya low profil dan tidak suka cerita banyak," alasannya.
Said Hamzah kembali bertugas di Tanjungpinang tahun 1957.Tahun 1984 ia pensiun sebagai pegawai.Tapi ia tetap diperbantukan sebagai tenaga kesehatan di Puskesmas Dokabu selama 20 tahun.
Kini sejak tahun 2004 ia mengisi hari tua di rumah.Namun bukan berarti ia diam.Ia tetap melayani masyarakat yang memintanya untuk memberikan pengobatan,khususnya para tetangga dan warga yang sejak lama cocok berobat dengannya.
"Abah ini masih bawa motor meski sudah dilarang anak-anak.Tapi sekarang ini hanya untuk jarak dekat saja,"kata Said Husin
Sebagai seorang anak,Said Husin mengaku kagum dengan pengabdian sang bapak terhadap masyarakat.Ia masih ingat ketika duduk di bangku SMP dan SMA sering menemani sang bapak yang diminta tengah malam untuk mengobati warga yang sakit di Pulau Dompak dan Senggarang.
"Abah itu tidak pernah menolak warga yang butuh pertolongan.Sering tengah malam saya menemani beliau dengan sampan dayung untuk menyeberang ke Dompak dan Senggarang," kenangnya.
Pengabdian besar itu masih ditunjukannya saat ini.Warga yang tidak mampu yang sering meminta pertolongannya sering dilayani gratis.Bahkan warga yang mampu pun ia tidak mematok tarif.
Dari cerita sang anak jugalah diketahui kalau Said Hamzah adalah perawat pribadi keluarga Bupati Kepulauan Riau Firman Edi.Selain itu konon banyak pejabat saat ini yang dulu dikhitan oleh sang abah.
Read More......
Aswandi Syahri Sejarahwan Penyelamat Arsip dan Photo Lama
Bermula dari pendidikannya di perguruan tinggi pada Fakultas Sastra jurusan sejarah, Aswandi Syahri mulai menekuni penelitian dan penyelamatan benda-benda sejarah,khususnya dalam bentuk tulisan/naskah dan photo.Saat ini di rumahnya tersimpan ratusan koleksi naskah lama yang punya sejarah penting bagi perjalanan awal mula Tanjungpinang, selain beberapa diantaranya dipajang di Museum Sultan Badrul Alamsyah Tanjungpinang.
Minatnya itu juga tidak terlepas dari sang bapak,Aryoes Syarbani seorang seniman yang punya banyak teman dari berbagai kalangan seperti wartawan.Berbagai majalah lama koleksi sang bapak yang sering dibacanya saat masih duduk di bangku sekolah, adalah tonggak awal dari minatnya mempelajari sejarah.
Kini sebagai seorang sejarahwan di Kepri, Aswandi telah berjasa dalam upaya penyelamatan naskah-naskah lama dan photo-photo lama.Pekerjaan yang semula sering dianggap aneh oleh banyak orang, kini telah membuka banyak pikiran orang jika apa yang dilakoninya selama ini sangat bermanfaat bagi orang banyak pada masa sekarang dan masa datang.
Bagaimana tidak, untuk menyelamatkan naskah-naskah dan arsip itu ia harus rela mengorek-ngorek tong sampah di sejumlah tempat, seperti depan hotel Tanjungpinang dan bekas kantor bupati Bintan yang kini menjadi kantor gubernur Kepri.Dari tumpukan kertas itu ia menemukan banyak arsip penting yang sangat sayang jika terbuang dan hancur oleh alam.Bahkan ia juga berburu melalui para pemulung yang mengumpulkan kertas dengan jalan membeli.
"Sebenarnya ini hanya kerja sampingan saya dari pekerjaan saya sebagai peneliti sejarah dan tanpa beban saya melakukannya.Karena bagi saya sejarah itu punya arti penting khusus untuk Kota Tanjungpinang sebagai kota tua yang punya banyak data sejarah dan harus diselematkan," papar pria kelahiran 1970 ini.
Dengan koleksi yang dimilikinya dan dipajang khusus di salah satu ruangan di Museum Sultan Badrul Alamsyah, masyarakat bisa mengenang dan bernostalgia akan masa lalu.Seperti saat melihat foto-foto masa lampau mereka yang pernah melalui masa itu merasa senang karena bisa bernostalgia.Sedangkan generasi muda bisa tahu kondisi Tanjungpinang pada masa lalu.
Menjawab apa yang telah diterimanya atas sedikit banyak jasanya dalam menyelamatkan naskah dan photo lama itu, Aswandi mengaku tidak mengharapkan apa-apa selain kepuasan batin.Sedangkan dari pemerintah juga belum ada."Ya saya hanya membantu pemerintah saja apalagi memang diminta untuk membantu," alasannya.
Upaya penyelamatan terhadap naskah-naskah dan arsip lama yang dilakoninya, ternyata membawa dampak positif.Banyak masyarakat yang kini sadar dan tahu akan arti penting arsip lama itu dan kemudian tidak membuang lagi sembarang."Positifnya setelah sering diekspos di media tentang upaya saya, banyak warga yang punya arsip menyimpannya dan tidak lagi membuang sembarangan," tuturnya.
Sebagai peneliti sejarah Aswandi telah membuat sejumlah buku seperti Temenggung Abdul Jamal,Temenggung Riau,Johor,Pahang,Pulau Bulang,Batam Brick World,Raja Ali Kelana,Pondasi Historis Industri Pulau Batam,Kota Kara dan Situs Sejarah Binta Lama,Cogan,Regalia Kerajaan Riau Lingga dan Pahang.Sedangkan saat ini ia sedang mengerjakan terjemahan buku berbahasa melayu ke dalam bahasa Indonesia tentang silsilah Melayu dan Bugis.***ANA Read More......
Bernostalagia di Museum Sultan Badrul Alamsyah
Kota Tanjungpinang sebagai salah satu kota tua di Kepri tentu punya banyak kenangan akan sebuah perjalanan sejarah di masa lalu.Berbagai kenangan itu bisa berbentuk benda, seperti peralatan makan, perhiasan,alat penangkap ikan,alat perang,hiasan rumah, perlengkapan pengantin serta foto-foto pada masa lalu.Kini semua kenangan itu bisa dikenang kembali oleh mereka yang pernah melalui suatu masa atau mereka yang belum pernah, di Museum Sultan Badrul Alamsyah.
Museum yang diresmikan pada akhir Januari lalu itu, resmi dibuka untuk umum tidak hanya untuk bernostalgia bagi generasi tempoe doeloe, tapi juga sebagai sarana pendidikan, ilmu pengetahuan bagi generasi sekarang dan yang lebih penting lagi sebagai pelestarian budaya.
Museum yang menempati bekas bangunan sekolah dasar itu,terletak di lokasi yang strategis di pusat Kota Tanjungpinang.Dibuka setiap Selasa hingga Minggu, museum tersebut cukup diminati oleh warga dan pelajar yang penasaran dengan warisan budaya Tanjungpinang pada masa lalu.Tak heran jika pada minggu-minggu pertama pembukaan tercatat pengunjung mencapai ribuan.
Seiring dengan visi dan misi mewujudkanTanjungpinang sebagai kota wisata, museum tersebut diharapkan juga mendukung program tersebut, sehingga mendongkrak jumlah wisatawan yang berkunjung ke kota ini.
Setidaknya itulah harapan yang disampaikan oleh Kadis Kebudayaan dan Pariwisata Tanjungpinang Drs Abdul Kadir Ibrahim, yang menyatakan Museum Sultan Badrul Alamsyah diharapkan bisa mendukung program pariwisata Tanjungpinang.
Sedangkan Wali Kota Tanjungpinang Dra Hj Suryatati A Manan pada saat peresmian menyatakan, museum itu sebagai salah satu upaya Pemko Tanjungpinang memberikan ruang yang luas kepada seluruh masyarakat, untuk mengetahui dan mempelajari benda koleksi yang dipamerkan.
Wali kota berharap untuk menambah koleksi barang di museum itu, para pemilik barang yang menguasai benda warisan budaya dapat menyerahkan kepada pemerintah.
Berdirinya museum itu seperti saat ini ternyata memerlukan waktu yang cukup lama.Menurut Kabid Permuseuman Disbudpar Tanjungpinang,Meitia Yulianti SS,MT, persiapan pembangunan museum itu sejak tahun 2004.
Diawali dengan perencanaan pengadaan barang koleksi yang mengandung sejarah seperti keramik, naskah kuno,alat rumah tangga,senjata dan lainnya.Untuk mendapatkan barang-barang yang mengandung nilai sejarah, tak jarang ia harus mencari ke toko barang antik.Karena kenyataannya di sana memang banyak masyarakat yang menjual koleksi peninggalan orang tua mereka.
Mengingat pentingnya benda-benda yang mengandung nilai sejarah itu, Disbudpar harus mengeluarkan biaya yang lumayan besar agar barang-barang itu bisa dipajang di museum, serta dilihat oleh banyak orang.
"Kesadaran masyarakat tentang benda-benda sejarah itu masih kurang, mereka kadang menjual ke toko barang antik akibat tidak tahu nilai benda itu.Tapi sebagaian bisa kita selamatkan, namun ada juga yang mungkin dibeli orang asing yang berburu barang antik," tutur arkeolog ini.
Namun, ia juga menyatakan terima kasih kepada masyarakat yang rela koleksi mereka disumbangkan untuk memperkaya koleksi di museum tersebut.Untuk itu ia juga bagi masyarakat yang masih ingin menyumbangkan koleksi mereka,bisa langsung menghubungi pihak museum.
Saat ini museum itu dikelola oleh lima orang petugas dan seorang pemandu.Namun, ia mengakui jika museum itu sangat membutuhkan sumber daya manusia yang memiliki keahlian dalam mengelola museum atau sarjana museumologi.
Karena menurutnya yang punya sedikit banyak pengetahuan di bidang permuseuman,pengelolaan museum tidak bisa dikelola sembarang orang, apalagi tidak punya dasar ilmu yang berkaitan dengan permuseuman.
"Setidaknya sementara dengan dasar ilmu saya sebagai arkelog dan pernah bertugas di museum Pekanbaru, bisa mengelola museum ini.Tapi intinya tetap dibutuhkan kurator," alasannya.
Para petugas pun menurutnya juga perlu ditugas magangkan di museum yang besar, sehingga nantinya ilmu yang diperoleh bisa dipraktekan."Kita sudah punya rencana dan semoga bisa terwujud," harapnya.
Dijelaskannya museum tidak dapat dipisahkan dari koleksinya. Koleksi merupakan jantungnya museum. Koleksi museum harus disajikan sebagai salah satu bentuk komunikasi yang penting dalam upaya menarik minat masyarakat berkunjung ke museum. Dalam penyajian koleksi museum harus memperhatikan nilai estektika, artistik, edukatif dan informatif.
Berkaitan dengan pengunjung museum dalam penyajian koleksi harus memperhatikan kebebasan bergerak bagi pengunjung, sirkulasi pengunjung, kenyamanan pengunjung dan keamanan koleksi museum. Informasi yang disampaikan kepada pengunjung juga harus bersifat komunikatif dan edukatif, yaitu sekurang-kurangnya memuat nama benda, asal ditemukan, periode dan umur, dan fungsi koleksi.
Agar tetap terjaga kelestariannya koleksi museum terhadap perlu dilakukan perawatan (konservasi) yang sesuai dengan karakteristik dan material koleksi, dalam hal ini peneliti koleksi (kurator) bekerjasama dengan konservator.
Selain konservasi, perlu tindakan pencegahan terhadap kerusakan koleksi atau pengawetan sehingga koleksi tetap terjaga kelestariannya, dalam kegiatan tersebut dituntut peran aktif konservator yang sebaiknya memiliki keahlian yang cukup tentang koleksi yang menjadi tanggung jawabnya, sehingga tidak menggantungkan masalah kelestarian koleksi sepenuhnya kepada kurator.
Selain itu, koleksi-koleksi yang mengalami kerusakan atau fragmentaris perlu diperbaiki atau direkonstruksi supaya dapat diperoleh bentuk seperti semula. Perlu untuk dilakukan studi perbandingan dengan koleksi lain yang masih utuh dan diperkirakan sejenis dengan koleksi tersebut, serta direkonstruksi di atas kertas terlebih dahulu, sebelum dilakukan restorasi terhadap koleksi.
Pengamanan museum sangat penting, menyangkut keamanan koleksi, bangunan dan manusia (petugas dan pengunjung) museum. Pengamanan museum tidak hanya menjadi tanggungjawab petugas Satpam, melainkan semua pegawai museum. Pengamanan museum meliputi proteksi museum beserta koleksinya dari tindakan pencurian dan vandalisme, dan penanggulangan terhadap bencana.
"Kita berharap tahun-tahun ke depan segala hal yang berkaitan dengan kemajuan museum ini bisa dipenuhi,seperti perawatan dan pengamanan koleksi," harapnya lagi.
Untuk mempromosikan keberadaan museum itu, pihaknya membuat undangan kunjungan ke setiap sekolah semua tingkat, hotel dan biro perjalanan."Lumayan dengan promosi seperti itu ada wisatawan yang dari luar Tanjungpinang sengaja datang ke museum ini," tandasnya.***ANA
Insert :
Lebih Jauh tentang Museum Sultan Badrul Alamsyah
Gedung yang saat ini berdiri sebagai Museum Sultan Badrul Alamsyah, dulunya adalah bekas gedung pertama sekolah tingkat dasar masa kolonial, dengan nama Holland Irlandsch School (HIS) tahun 1918.Pada zaman Jepang sekolah itu berganti nama menjadi Futsuko Gakko.Kemudian pada zaman kemerdekaan gedung itu tetap difungsikan sebagai sekolah rakyat dan akhirnya dijadikan SD 01 Tanjungpinang sampai tahun 2004.
Mengingat gedung itu memiliki nilai penting bagi sejarah awal mula pendidikan di Tanjungpinang,sehingga direkomendasikan untuk dijadikan Museum Kota Tanjungpinang dengan nama Museum Sultan Badrul Alamsyah.
Koleksi yang dipamerkan menceritakan tentang bermula Kota Tanjungpinang,seni budaya,keragaman budaya di Tanjungpinang serta berbagai jenis keramik yang dikumpulkan dari Tanjungpinang dan daerah sekitarnya.
Jenis Koleksi
1.Koleksi Etnografi
Koleksi ini merupakan benda-benda hasil budaya berbagai etnis,berupa peralatan yang digunakan untuk upacara maupun dipakai sehari-hari, seperti perhiasan atau aksesoris,busana,senjata dan juga peralatan rumah tangga.
2.Koleksi Keromologika
Koleksi keramik kebanyakan untuk peralatan rumah tangga dengan bahan tanah liat.Umumnya berasal dari Cina,Jepang,Eropa, seperti kendi,tempayan,piring dan guci.
3.Koleksi Teknologika
Benda-benda koleksi teknologika merupakan benda hasil teknologi yang menggambarkan tingkat pencapaian teknologi suatu zaman.Benda-benda koleksi ini berupa alat musik seperti arkodeon,gramafon,alat-alat teknologi seperti mesin penggiling gelang dan telepon engkol.
4.Koleksi Historika
Benda-benda atau sesuatu yang mempunyai nilai kesejarahan,menjadi objek studi tentang sejarah meliputi kurun waktu ditemukan catatan-catatan tentang sejarah, masuknya pengaruh bangsa lain.Benda-benda tersebut pernah digunakan berhubungan dengan kejadian/peristiwa sejarah.Koleksi-koleksiyang dipamerkan antara lain,artefak,catatan dan naskah kuno,gambar ilustrasi,miniatur dan foto-foto.
5.Numismatika dan Heraldika
Koleksi numismatik merupakan benda-benda yang pernah beredar dan digunakan masyarakat,seperti koin,uang kertas dan token.Sedangkan koleksi heraldika berupa lambang-lambang, medali,tanda jasa,cap stempel dan amulet.
6.Filologika
Benda koleksi yang merupakan hasil budaya manusia masa lampau berbentuk tulisan tangan.Koleksi seperti ini sangat banyak ditemukan di daerah Pulau Penyengat yang memang terkenal sebagai kawasan budaya sastra Melayu.Naskah-naskah tersebut berisikan hal-hal yang berhubungan dengan ajaran agama,hukum,silsilah, perjanjian dan lainnya
7.Photo-photo sejarah
Photo-photo sejarah merupakan salah satu andalan koleksi museum.Dengan adanya photo sejarah ini diharapkan dapat membangkitkan rasa cinta terhadap Kota Tanjungpinang yang terus berkembang,seperti tergambar pada photo-photo yang ditampilkan.
8. Pelaminan
Dengan adanya pelaminan Melayu diharapkan pengunjung akan terbawa pada suasana pernikahan Melayu yang sebenarnya.Di ruang yang khusus diperuntukan untuk pelaminan ini menggambarkan adat istiadat pernikahan Melayu tidak pernah dilupakan dan ditinggalkan oleh masyarakat Tanjungpinang,yang terdiri dari berbagai kaum.
***ANA/sumber Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Tanjungpinang
Read More......
Minggu, 21 Juni 2009
Membangkit Bakat Terpendam Wanita Gali Potensi Lewat Puisi
Semula Badan Pemberdayaan Perempuan dan KB (BP2KB) KotaTanjungpinang hanya berniat mengadakan Lomba Menulis dan Membaca Puisi bagi kaum wanita, dalam rangka peringatan Hari Kartini 2008.Memang tujuan pelaksanaan lomba yang ditaja 15-16 Mei 2009 itu, selain untuk memberikan kesempatan wanita dalam berkreatifitas juga untuk menggali potensi wanita dalam berpuisi.
Seperti yang disampaikan oleh Kepala BP2KB Tanjungpinang,Hj R Khairani, saat pembukaan lomba yang bertemakan Semangat Kartini Membangun Negeri itu."Lomba ini bertujuan memberikan kesempatan kepada kaum perempuan untuk mengembangkan wawasan dan berkreatifitas dalam berpuisi," tuturnya di Gedung Aisyah Sulaiman.
Hal yang sama diungkapkan oleh Wali Kota Tanjungpinang Dra Hj Suryatati A Manan saat membuka kegiatan itu. Menurutnya,lomba itu minimal dapat menyalurkan bakat kaum wanita dan ibu khususnya.Apalagi kaum perempuan suka menyimpan di hati masalah yang mereka hadapi.
"Lebih baik apa yang dirasakan itu dikeluarkan dalam bentuk puisi,daripada disimpan dalam hati sehingga bisa dinikmati orang lain juga," ujar walikota.
Namun, ternyata antusias lebih 75 orang wanita yang ikut dalam lomba itu bukanlah sekedar ikut-ikutan.Karena mereka punya kemampuan yang bagus dalam menulis dan membacakan puisi.
Tak heran jika rencana pelaksanaan lomba yang semula hanya akan digelar satu hari, ditambah satu hari lagi untuk final."Rata-rata semua bagus dan juri agak kesulitan menentukan pemenang.Jadi harus ada final guna memudahkan menentukan pemenang," tutur Tusiran Suseno,Ketua Dewan Juri.
Dewan juri yang beranggotakan Asrizal Nur dari Yayasan Panggung Melayu dan Syafruddin ini, mengakui jika teknik membaca puisi peserta secara umum seperti vokal sudah baik.Namun memang masih ada yang perlu ditingkatkan seperti ekspresi,intonasi dan artikulasi.
Apa yang disampaikan oleh juri tidak berlebihan mengingat peserta yang terdiri dari organisasi wanita dan PNS itu, mampu tampil berpuisi dengan berbagai gaya,seperti menambahkan nyanyian dan akting.
Final yang berlangsung keesokan harinya,16 Mei di tempat yang sama juga menghasilkan 10 orang peserta.Mereka kemudian kembali membacakan puisi yang sama.Bahkan ada yang kemudian menambahkan berbagai versi cara pembacaan yang makin tampak menyulitkan para juri untuk menentukan pemenang.
Seperti yang diungkapkan oleh Asrizal Nur pada malam penutupan dan pengumuman pemenang, dari 10 orang peserta 5 peserta sudah mampu berpuisi dengan standar nasional dan 2 orang melebihi standar nasional.
Bahkan,pria yang sejak lama aktif di dunia panggung sastra ini mengaku baru kali ini melihat lomba membaca puisi yang semua pesertanya adalah kaum ibu.Ia menilai jika panitia mau lomba membaca dan menulis puisi yang diikuti kaum wanita itu bisa masuk rekor MURI.
"Setahu saya belum ada lomba semacam ini yang hanya melibatkan ibu-ibu semua.Jika para peserta ini diasah dan dibina,saya pastikan Tanjungpinang bisa menjadi gudang penyair wanita," tandasnya,yang disambut tepuk riuh hadirin.
Wali Kota Tanjungpinang Dra Hj Suryatati A Manan dalam sambutannya pada penutupan lomba itu, juga menyatakan rasa kagum dan takjub pada kemampuan terpendam para wanita di kotanya.
"Saya melihat para peserta hebat semua,baik dalam menulis dan membaca puisi.Ini sangat diluar dugaan kita,ternyata banyak bakat terpendam wanita di kota ini," ujarnya bangga.
Ia menyatakan dukungannya terhadap pernyataan juri agar kemampuan semua peserta khususnya diasah dan dibina lagi, sehingga Tanjungpinang punya banyak penyair wanita."Kita ketahui bersama penyair wanita itu sangat sedikit dan semoga saja dengan ajang ini Tanjungpinang bisa melahirkan banyak penyair wanita," harapnya.
Sebagai wujud dukungan itu, Suryatati menyatakan jika malam itu secara resmi dideklarasikan Himpunan Penyair PerempuanTanjungpinang.Selain itu ia juga menjanjikan pemenang pertama lomba membaca puisi akan ikut diundang ke Jakarta,pada peluncuran buku puisinya pada 26 Mei mendatang.
"Juara pertama akan saya undang ke Jakarta untuk ikut pada peluncuran buku puisi saya dengan Martha Sinaga," tuturnya,yang disambut riuh peserta.
Suryatati berharap, kegiatan seperti itu rutin dilaksanakan setiap tahunnya sehingga akan banyak lagi bermunculan para wanita yang punya kemampuan terpendam membaca dan menulis puisi.
Bahkan ia mengatakan, untuk lebih menguji kemampuan wanita berpuisi akan diadakan juga Tarung Penyair Pria dan Wanita yang selama belum pernah ada."Kalau selama ini hanya ada Tarung Penyair yang diikuti pria saja,nanti kita adakan Tarung Penyair Pria dan Wanita.Mana yang lebih hebat," ulasnya sambil bergurau yang disambut tawa hadirin.
Ketua Dewan Juri Tusiran Suseno sebelum membacakan nama pemenang mengakui, teknik membaca puisi peserta sudah berkembang ke arah modern atau tidak lagi menggunakan gaya lama.Selain itu dalam lomba itu bermunculan para penulis yang juga mampu membaca puisi dengan baik.
"Lomba ini telah melahirkan juga penulis dan pembaca puisi yang baik,meski ada juga ada yang hanya bisa menulis saja," tuturnya.
Sejumlah peserta yang ikut kegiatan itu mengakui, selain untuk berpartisipasi memeriahkan Hari Kartini mereka juga ingin tampil untuk menguji kemampuan bakat terpendam selama ini.
"Kita berpartisipasi saja,tapi juga untuk menguji bakat kita menulis puisi yang selama ini tidak pernah dibacakan.Kalah atau menang itu urusan kedua,yang penting mencoba," tutur Santi dari salah satu organisasi wanita.
Lomba tersebut memberikan dua kategori untuk menulis dan membaca puisi.Para juara masing-masing kategori akan mendapatkan hadiah uang tunai dan piala tetap serta piagam penghargaan.**INA
Rabu, 18 Maret 2009
Ketika Sang Suami Melayani Istri
Selama ini mungkin identik istilah kalau istri adalah pelayan suami dari dapur,sumur dan kasur.Sebuah istilah yang sangat tidak lagi cocok dengan kondisi zaman sekarang, meski tetap sang suami adalah pemimpin keluarga.Tapi bukan berarti seorang pemimpin tidak bisa juga turut melayani ?!Pemimpin yang merasa harus menjadi orang yang selalu dihormati, selalu dilayani dan tidak peduli dengan orang yang telah melayani,mungkinkah itu seorang pemimpin sejati ?
Saya bersyukur punya pemimpin di rumah tangga yang punya pengertian yang lumayan pengertian.Di awal pernikahan saya mengira itu hanya "pemanis" saja,namun kenyataannya hingga 4 tahun sikap pengertiannya tidak berubah alias tetap sama.
Bang Ude tercinta saya tidak pernah membangunkan saya di istirahat siang hanya karena ia ingin dibuatkan kopi..Ia juga tidak merajuk kalau saya sibuk menyelesaikan pekerjaan yang menumpuk,tapi malah mengerti dan bahkan memasak untuk kami berdua.
Ketika saya sibuk dengan urusan rumah tangga di hari minggu, ia juga mengerti dengan membantu seperti membilas pakaian atau membersihkan teras rumah yang dipenuhi bunga hasil rawatannya.
Bukan memuji suami sendiri,tapi kondisi jarang ditemui pada suami tetangga kiri kanan bahkan teman saya.Banyak teman yang mengeluh karena suami tidak pengertian dan senantiasa selalu minta dilayani.Tidak peduli kalau istri juga capek bahkan sedang sibuk dengan tetek bengek urusan rumah tangga lainnya,apalagi kalau sudah memiliki anak.
Memang,pria adalah pencari nafkah utama dalam keluarga.Sehingga statusnya memang lebih tinggi dari istri.Tapi, bukankah rasa pengertian dari sang suami kepada tanggungjawab istri dalam mengurus rumah tangga,pasti akan mempererat rasa cinta dan kasih sayang.
Kondisi ini bukan berarti menggeser nilai-nilai berkeluarga,tapi adalah sebuah wujud kebersamaan dalam membina rumah tangga.Pengertian,tenggang rasa,memahami pasangan bisa dikatakan lebih penting di antara rasa cinta saat pandangan pertama.
Cinta hanya karena kecantikan dan kegantengan rupa,bisa berubah ketika rasa pengertian,toleransi antara suami istri tidak ada.Tapi sebaliknya rasa cinta dan kasih sayang makin terpupuk karena kebersamaan tadi.
Ini adalah pendapat saya sebagai seorang istri yang baru seumur jagung membina rumah tangga.Silahkan berkomentar jika anda tidak setuju ataupun setuju,thank.
Senin, 16 Maret 2009
"Harga" Sebuah Kursi Legislatif
Ibarat sebuah pesta besar, Pemilu Legislatif 2009 telah dan akan terus menghabiskan dana yang sangat banyak hingga masa pencontrengan 9 April mendatang.Baik dari anggaran yang dikeluarkan pemerintah untuk keperluan operasional Pemilu melalui Komisi Pemilihan Umum (KPU) pusat dan daerah, hingga dana yang dikeluarkan oleh partai peserta pemilu dan caleg sendiri.Sebagai gambaran KPUD Tanjungpinang saja mengajukan anggaran kepada pemerintah daerah kurang lebih Rp 3 M. Jumlah yang sepadan guna suksesnya pemilihan wakil rakyat yang nantinya menjadi sinergi pemerintah dalam membangun daerah.
Sementara, bagaimana dengan biaya yang dikeluarkan masing-masing Parpol khususnya para caleg ?Inilah pengakuan sejumlah caleg dan pengurus Parpol tentang biaya sosialisasi dan kampanye guna dikenal pemilih dan meraih suara terbanyak, yang akan menghantarkan mereka ke kursi dewan.Sebuah konsekuensi yang harus ditempuh dalam berpolitik,terpilih atau tidak mesti siap mental.
Ada yang mengaku dibantu partai, menggunakan uang pribadi, kolaborasi antara caleg provinsi dan kabupaten/kota, meminjam uang dan menggadaikan aset hingga bantuan dari keluarga.Namun semua pengakuan itu tentu tidak sepenuhnya terbuka, mengingat segala yang berhubungan dengan dana dan biaya cenderung sensitif dan bahkan ada yang mengganggap kurang etis untuk dibahas.
M.Syahrial caleg PAN untuk Dapil I Tanjungpinang, mengaku tidak mengeluarkan biaya yang terlalu besar guna keperluan kampanyenya.Biaya yang telah dikeluarkannya secara pribadi selama ini dari masa sosialisasi melalui atribut hingga sosialisasi tentang cara penconterangan ke daerah pemilihannya, mencapai angka Rp 50 juta.Sementara PAN Tanjungpinang sendiri telah menghabiskan biaya sekitar Rp 100 juta untuk keperluan sosialisasi hingga kampanye semua caleg.
Sebagai seorang pengusaha, wajar jika Syahrial mengatakan jumlah itu tidak terlalu besar.Namun untuk apa saja dana itu telah digunakan, ia memberikan gambaran umum seperti untuk pembuatan atribut baliho diperlukan dana sekitar Rp 500 ribu untuk satu ukuran besar.Sedangkan untuk poster rata-rata per satuannya menghabiskan biaya sekitar Rp 50 ribu.
Sedangkan untuk kegiatan sosialisasi PAN ke basis massa yang akan dilakukan hingga 15 Maret, juga memerlukan biaya ratusan ribu setiap kali pertemuan.Rata-rata satu kali pertemuan yang memerlukan makanan,minuman san biaya transportasi sebesar Rp 300 ribu."Sejak dimulainya jadwal sosialisasi ke masyarakat ini kita tiap hari turun, memang secara bergantian masing-masing caleg.Tapi itulah gambarannya biayanya dan masing-masing caleg akan bervariasi," jelasnya.
Sumber dana para caleg PAN menurutnya ada yang berasal dari bantuan partai, pribadi maupun sumbangan lainnya.Khusus dirinya ia mengaku mengeluarkan biaya pribadi yang berasal dari tabungan dan assetnya. "Dalam aturan pemilu mengenai sumber dana kampanye partai saja yang dilaporkan ke KPU, sedangkan sumber dana caleg tidak dilaporkan," tandasnya.
Di PAN sendiri tambahnya, juga menerapkan kolaborasi sosialisasi antara caleg provinsi dan kabupaten/kota.Contohnya pada pemasangan poster dan baliho, caleg provinsi juga memasang foto caleg dari kota/kabupaten.Begitu ketika sosialisasi turun ke basis massa, caleg provinsi juga akan melibatkan caleg dari kabupaten/kota.Kondisi akan sangat membantu caleg khususnya dalam penghematan biaya, sebab dilakukan secara bersama.
Syahrial yang juga Sekretaris DPD PAN Tanjungpinang ini mengaku seluruh biaya yang dikeluarkan dalam pencalegan adalah sebuah konsekuensi dalam berpolitik.Karena ketika ia menyatakan terjun ke dunia politik dan ikut pencalegan, ia telah siap dengan apa yang harus dikorbankan.
Salah satunya telah ia buktikan saat maju pada pemilihan wali kota tahun 2007. Karena itu, sekarang pun ia mengaku juga telah siap mental jika nantinya tidak duduk sebagai anggota dewan."Ya kita harus siap dengan konsekuensi yang akan dihadapi.Politik bukan bisnis yang mencari untung dan rugi, tapi memang harus siap berkorban khususnya masalah dana saat pencalegan," alasannya.
Namun meskipun begitu, ia tetap optimis jika masyarakat pemilih saat ini sudah cerdas dan tahu siapa yang akan dipilih. "Masyarakat sekarang itu sudah cerdas dalam memilih dan kita optimis mereka akan tahu pilihan yang tepat," tandasnya.
Sedangkan jika ia terpilih dan duduk di kursi dewan, bukan berarti ia akan berusaha mengembalikan dana yang telah ia habiskan untuk pencalegan tersebut."Sekali lagi ini, politik ini bukan ibarat bisnis yang ada untung dan rugi, namun yang ada hanya konsekuensi yang harus diterima dari pilihan kita saat terjun ke dalamnya," imbuhnya lagi.
Pinjam Dana ke Bank
Jika Syahrial cenderung agak terbuka tentang pendanaannya sebagai caleg,lain halnya dengan Mhd Arief yang merupakan Ketua DPD PKS Tanjungpinang yang tidak bisa menyebutkan angka meskipun hanya sekedar perkiraan.Ia mengaku tidak bisa menyebutkan jumlah dana yang sudah dikeluarkan partainya untuk membiayai pencalegan 28 calegnya yang tersebar di tiga daerah pemilihan, mengingat semua biaya dikeluarkan oleh partai.
"Saya lupa berapa jumlah yang sudah dikeluarkan partai untuk membiayai pencalegan, sosialisasi hingga kampanye nanti. Karena sejak awal proses pendaftaran hingga sekarang memang partai yang membiayai mereka.Komitmen PKS memang tidak membebani caleg dalam soal biaya dan ini bisa dicek ke masing-masing caleg," ungkapnya.
Hal itu merupakan komitmen PKS dari pusat hingga daerah yang mana konsisten dengan sistem yang sudah dibuat dan dijalankan selama ini.Tujuannya tidak lain agar ketika mereka terpilih dan duduk di dewan, juga punya komitmen ke partai.
Seperti diketahui selama ini, PKS membuat sebuah kontrak atau kesepakatan dengan para kadernya yang duduk di kursi rakyat, yang mana gaji tidak sepenuh milik mereka pribadi namun juga merupakan hak partai untuk kepentingan semua anggota,kader dan simpatisan.Dari dana itu nantinya akan digunakan untuk berbagai kegiatan internal partai maupun eksternal di masyarakat.
Dengan sistem pembiayaan pencalegan sepenuhnya ditanggung partai, para caleg kata Arief diberi tanggungjawab bekerja dan bergerak mensosialisasikan pencalegan mereka.Sehingga target perolehan kursi PKS di dewan sesuai standar tingkat nasional sebanyak 20 persen bisa dicapai.
"Dengan sistem seperti itu, kita ingin menegakan wibawa partai dan dipandang positif oleh para caleg," alasan anggota DPRD Tanjungpinang ini.
Sedangkan menjawab tentang sumber dana partai itu untuk membiayai calegnya, Arief mengatakan selain dari sumbangan gaji anggota dewannya juga dari pinjaman dana ke bank dan sumbangan dari pengurus dan kader secara sukarela.Mengenai pinjaman dana ke bank,Arief menolak menjelaskan secara rinci.
Arief yang juga kembali mencalonkan pada Pemilu kali ini, juga mengharapkan pada kecerdasan masyarakat dalam memilih caleg yang bisa membawa aspirasi mereka.
Biaya Minimal
Dalam soal pembiayaan pencalegan, sosialisasi hingga kampanye Partai Indonesia Baru (PIB) Kepri khususnya , punya kebijakan berbeda dengan partai lainnya umumnya.Partai ini selain juga membiayai calegnya juga memberikan arahan standar ambang batas kepada para caleg dalam membiayai sendiri sosialisasi pencalegan mereka.
Setiap caleg diarahkan mengeluarkan dana pribadi seminimal mungkin atau sampai ambang batas Rp 20 juta, sehingga dengan aturan itu total biaya yang dikeluarkan PIB untuk pencalegan,sosialisasi dan kampanye diharapkan bisa di bawah Rp 300 juta.Sistem suara terbanyak yang mementahkan nomor urut caleg, cenderung membuat para caleg di partai manapun akan ikut mengeluarkan biaya pribadi untuk sosialisasi dan kampanye sehingga nama mereka bisa dikenal masyarakat pemilih.
Menurut Rudi Chua yang merupakan caleg PIB untuk dapil Kota Tanjungpinang, PIB mempunyai caleg untuk DPRD Kepri sebanyak 3 orang dan Kota Tanjungpinang 15 orang. Proses sosialisasi mereka dalam bentuk pengenalan nama, nomor urut caleg dan partai melalui spanduk, poster, baliho serta berbagai atribut lainnya dibiayai oleh partai.Biaya pembuatan atribut itu sendiri menurutnya bisa dihitung mengingat standarnya sudah umum,seperti untuk pembuatan baliho rata-rata dipatok Rp 50 ribu per meter, dan spanduk rata-rata Rp 20 ribu per meter.
Atribut itu kemudian ditempatkan di titik-titik tertentu sesuai daerah pemilihan masing-masing caleg.Jika para caleg ingin atribut mereka lebih banyak dan meriah, dipersilahkan membuat sendiri dengan biaya pribadi.Begitu juga dengan kegiatan sosialisasi ke daerah pemilihan masing-masing,partai ini cenderung tidak melakukan kegiatan seperti yang dilakukan partai lain umumnya,seperti memberikan bantuan dan sumbangan untuk kelompok dan masyarakat.
Namun partai ini dan para calegnya lebih cenderung bersosialisasi dalam bentuk aksi nyata seperti gotong royong, fogging dan pemeriksaan kesehatan gratis.Seperti untuk fogging dalam setiap kegiatan bisa menghabiskan biaya rata-rata sekitar Rp 500 ribu.
"Kita lebih cenderung melakukan sosialisasi dalam aksi kongkrit dan menyentuh langsung masyarakat," alasannya.
Namun,ia tidak menampik jika partai itu dan para caleg juga sering mendapatkan permintaan sumbangan dari suatu kelompok.Menyikapi hal ini, standar minimal dalam memberikan bantuan kembali diterapkan oleh partai dan caleg.Tujuannya guna menghindari sikap caleg yang nanti terpilih, akan menjadikan kesempatan itu sebagai upaya mencari ganti dana yang telah dikeluarkan.
"Standar minimal biaya bagi caleg yang mengeluarkan dana pribadi mereka untuk proses sosialisasi hingga kampanye, bertujuan agar mereka yang duduk di dewan nanti tidak menjadikan masa lima tahun hanya untuk mencari ganti dana yang telah dihabiskan selama proses pencalegan," alasannya.
Dengan biaya seminimal mungkin itu juga,diharapkan konsekuensi dari caleg yang gagal meraih suara terbanyak juga minim."Jumlah dana yang dikeluarkan untuk pencalegan bukan penentu meraih suara terbanyak, masyarakat sudah cerdas dalam memilih.Jadi masalah dana bukan faktor utama dalam merebut simpati masyarakat, melainkan dengan perwujudan langkah kongkrit di tengah masyarakat," tandasnya.
Dengan kondisi di atas, Rudi yang sebelumnya menjadi anggota DPRD Kepri dari Partai Patriot Pancasila optimis bisa meraih suara terbanyak dan juga siap dengan segala konsekuensi jika tidak terpilih."Sekarang sistem suara terbanyak, bukan lagi ditentukan nomor urut.Jadi kita harus bekerja keras dan siap menerima kemenangan dan kekalahan," akhir pengusaha hotel dan restoran ini.
Dukungan Suami dan Keluarga
Untuk kedua kalinya Asmiyati, maju sebagai caleg Partai Golkar dapil Kecamatan Tanjungpinang Kota dan Barat .Sistem nomor urut pada Pemilu Legislatif 2004 telah mementahkan suara terbanyak yang diperolehnya waktu itu, sehingga ia harus ikhlas rekannya di nomor urut satu melenggang ke kursi dewan.Tapi, dengan sistem suara terbanyak pada Pemilu 2009 ini ia optimis jika mampu mewujudkan cita-citanya berbakti untuk daerah melalui lembaga legislatif.
Berbekal dan belajar dari pengalaman saat sosialisasi dan kampanye Pemilu 2004, wanita yang aktif di berbagai organisasi ini mengaku mengeluarkan biaya yang jauh lebih sedikit pada saat ini.Semua biaya itu menurutnya berasal dari dana pribadi berupa dukungan dari suami dan sumbangan keluarganya.
Wanita yang juga merupakan Ketua Pimpinan Kecamatan Tanjungpinang Kota Partai Golkar ini, mengakui ia harus menggadaikan sejumlah aset pribadinya untuk membiayai sosialisasi.Namun ia menolak menyebutkan aset apa saja dan berapa dana yang telah ia habiskan untuk sosialisasi dan kampanye nanti.
"Tidak perlu disebutkanlah angkanya, yang jelas saya menggunakan dana pribadi yang didukung suami dan ada juga sumbangan keluarga dalam bentuk bantuan jasa," wanita kelahiran 14 Februari 1965 ini.
Sebagai gambaran ia membuat spanduk sebanyak 30 lembar yang mana satu lembarnya menghabiskan biaya sekitar Rp 90 ribu.Sedangkan untuk pembuatan kartu nama ia menghabiskan biaya Rp 40 ribu untuk satu kotaknya.Belum lagi setiap pertemuan dan sosialisasi ke lapangan yang memerlukan biaya transportasi dan makan minum.
"Dengan belajar dari Pemilu 2004 saya sudah tahu strategi dan meminimalkan biaya sosialisasi dan kampanye.Bahkan saya juga tidak memiliki tim sukses namun hanya tim relawan," aku caleg nomor urut 3 ini.
Ketua Aliansi Perempuan Kota Tanjungpinang ini juga mengaku telah siap mental jika nantinya tidak terpilih.Namun, ia tetap memantapkan hati dan optimis jika ia bisa mengulang sukses meraih suara terbanyak seperti Pemilu 2004.
"Optimis itu perlu, namun kita juga harus tetap mempersiapkan mental menerima segala konsekuensi dari apa yang telah kita jalani ini," alasannya.
Berbeda dengan Asmiyati, rekannya Ratna Sari Dewi Amd yang menjadi caleg Partai Golkar di dapil Tanjungpinang Timur mengaku mengeluarkan sedikit biaya untuk sosialisasi.Wanita yang merupakan orang tua tunggal ini mengaku terbantu dengan sosialisasi yang dilakukan saat mendampingi caleg provinsi turun ke daerah pemilihan.
Ia mencontohkan sering turun ke lapangan bersama Hj Marfeni yang merupakan caleg Partai Golkar untuk DPRD Kepri dapil Tanjungpinang."Sedikit banyak saya terbantu dengan sosialisasi yang dilakukan korda," akunya.
Namun bukan berarti ia tidak mengeluarkan biaya untuk pembuatan atribut, seperti poster dan kartu nama tapi jumlahnya tidak banyak. "Biaya yang saya keluarkan pribadi mungkin hanya untuk pembuatan atribut, selebihnya terbantu oleh caleg provinsi," tuturnya.***ANA
Endri Sanopaka.SSos,Calon DPD RI
Optimis Raih Kursi Diantara Terbatas Dana
Jika para caleg DPRD dan DPR RI bisa dapat dana kampanye dari bantuan partai,dana pribadi dan sumbangan pihak lain yang sah, namun para caleg DPD RI hanya punya sumber dana dari pribadi dan sumbangan pihak lain yang sah.Kondisi memang cukup berat dalam upaya meraih suara empat besar guna supaya melenggang ke Senayan.
Salah satu calon DPD RI asal Kepri,Endri Sanopaka S.Sos yang berebut suara dengan 27 orang calon DPD lainnya, mengaku membiayai seluruh pencalonannya dengan dana pribadi serta didukung oleh keluarga. Artinya dosen muda yang mengajar Ilmu Adm Publik Fisip Umrah ini tidak menerima sumbangan dari pihak lain.
Berikut petikan wawancara Teras (TR) dengan Endri Sanopaka (ES),di ruang kerjanya Kampus Fisip Umrah,tentang pembiayaan pencalonan dirinya menjadi anggota DPD RI
TR : Selamat sore pak..langsung saja ke pertanyaannya ya
ES : Sore...silahkan
TR : Menjadi calon anggota DPD RI sesuai aturan KPU hanya bisa punya dua sumber dana kampanye,dari dana pribadi dan sumbangan pihak lain yang sah.Bisa dijelaskan seberapa besar dana yang sudah bapak keluarkan untuk pencalonan ini ?
ES : Mengenai jumlah dana yang sudah saya keluarkan untuk kegiatan pencalonan sebagai anggota DPD RI, saya kira tidak perlu disebutkan rinci.Karena saya sendiri belum menghitung secara pasti namun tetap mencatatnya, sebab nanti mesti juga dilaporkan ke KPU.Tapi yang yang jelas sumber dana pencalonan saya hingga saat ini masih menggunakan dana pribadi dan dukungan keluarga.
TR : Jadi tidak ada sumbangan dari pihak lain yang sah secara hukum ?
ES : Tidak ada.Memang beginilah kondisi negara kita yang mana calon itu tidak didukung oleh pemilih seperti halnya di sejumlah negara luar.Padahal saya sudah membuka diri untuk menerima sumbangan dari pihak lain itu.
TR : Misalnya melalui cara apa ?
ES : Ya bukan berarti kita meminta-minta sumbangan, tapi kita mencantumkan nomor rekening khusus melalui brosur saat sosialisasi.Dengan harapan rekening khusus kampanye itu diisi oleh pihak-pihak yang ingin mendukung.Tapi...hingga saat ini masih kosong (tersenyum)
TR : Sumber dana pribadi bisa disebutkan dalam bentuk apa saja ?
ES : Yang jelas saya punya penghasilan sebagai dosen,tabungan dan keluarga juga membantu dalam bentuk barang dan jasa.Seperti ada yang membantu dalam bentuk brosur dan spanduk.
TR : Apakah optimis dengan dana yang bisa dikatakan terbatas itu, bisa mencapai empat suara terbanyak guna meraih kursi DPD ?
ES : Saya kira masalah besarnya dana bukan hal yang utama dalam sosialisasi dan kampanye, melainkan bagaimana kita bisa mengelola dana yang ada seefesien mungkin sehingga semua operasional berjalan lancar.Seperti membuat sendiri brosur,stiker atau cenderamata meski jumlahnya terbatas. Yang pasti saya harus optimis karena saat memutuskan untuk mencalonkan diri, saya sudah menyiapkan lahir batin menerima konsekuensi yang harus diterima nanti.
TR : Mengapa Anda begitu optimis ?
ES : Karena saya punya visi dan misi berbeda dengan kebanyakan calon DPD lainnya. Saya juga punya skill di bidang tertentu karena saya dosen dan yang jelas saya juga masih sangat muda, serta punya pemikiran yang berbeda dengan calon lainnya.
TR : Tapi ada yang mengatakan visi dan misi Anda terlalu global ?
ES : Jika orang awam kebanyakan menilai memamg begitu.Tapi kalau dilihat dari tugas dan fungsi DPD yang membawa aspirasi daerah ke pusat, saya kira visi dan misi saya bermanfaat untuk kepentingan kemajuan daerah Kepri ke depan.
TR : Kembali ke sistem sosialisasi Anda dengan dana yang murni dari kantong pribadi, apa saja yang sudah dilakukan ?
ER : Karena pencalonan anggota DPD RI tidak punya daerah pemilihan atau meliputi seluruh kabupaten dan kota di Kepri, sistem sosialisasi saya paling efektif door to door.
TR : Maksudnya ?
ER : Ya melalui penyebaran brosur yang berisi profil saya serta visi dan misi ke setiap pemilih.Hingga saat ini sudah sekitar 90 ribu brosur yang tersebar.
TR : Apakah itu tidak sulit dan rumit ?
ER : Saya dibantu oleh relawan yang mendukung penyebaran itu di setiap kota dan kabupaten.Selain itu juga melalui iklan di RRI, berupa himbauan agar pemilih menggunakan hak suaranya serta melalui web pribadi di www.sanopaka.com
TR : Siapa saja relawan Anda itu ?
ER : Yang jelas dari keluarga, teman dan mahasiswa saya yang tidak diintervensi melainkan karena keinginan mereka sendiri.
TR : Kecenderungan yang terjadi pada Pemilu sebelumnya, masyarakat khususnya yang akan memilih anggota DPD sebahagian besar melihat dari sumbangan yang diberikan seorang calon, seperti berbagai cinderamata.Anda bisa bersaing dengan kondisi yang mungkin masih terjadi saat ini untuk meraih suara terbanyak, sementara yang diberikan tidak seberapa ?
ER : Sekali lagi saya siap bersaing dengan 27 calon dengan berbagai kelebihan yang telah saya sebutkan di atas tadi.Namun yang pasti saat ini masyarakat pemilih sudah cerdas yang tidak lagi melihat berdasarkan pemberian, melainkan sentuhan pribadi calon itu sendiri.
TR : Jika Anda tidak terpilih bagaimana ?
ER : Saya siap menerimanya, kesempatan saya masih ada untuk mencalonkan lagi untuk periode berikutnya, sebab usia saya masih muda saat ini baru 28 tahun.Selain itu jika terjadi memang wajar karena saya adalah calon pemula.Anggap saja ini proses belajar untuk mencapai hasil yang lebih baik nantinya.***ANA
Biodata
Nama : Endri Sanopaka S.Sos
TTL : Tembilahan,5 November 1981
Pekerjaan : Dosen Ilmu Adm Publik
Pendidikan : S1 Fisip Unpar-2004
S2 sedang ditempuh pada UUM Kedah,Malaysia
Nomor urut pencalonan : Nomor urut 10
Visi : Mewujudkan Provinsi Kepri yang berdaya saing melalui DPD R1 pada tahun 2014
Misi :
1. Mengajukan UU Keistimewaan daerah bagi Provinsi Kepri sebagai daerah yang berada di pintu gerbang perbatasan, antara negara Asean dan sebagai kawasan maritim.
2.Mengusulkan penyediaan anggaran pendidikan khusus bagi Kepri melalui UU APBN untuk pengembangan SDM berkwalitas
3. Mengusulkan prioritas penyediaan anggaran APBN dalam memperlancar transportasi antar pulau di Kepri
4.Menjamin dan memperkuat kapasitas Kepri dalam pelaksanaan desentralisasi melalui pengawasan UU



